5 Hal yang Wajib Kita Tahu Soal Pilkada Serentak



Sebagai warga negara Indonesia yang baik pastinya kamu sudah tahu kan kalau di 2018 kita mengadakan pemilihan kepala daerah atau pilkada serentak? Ternyata banyak awam belum mengetahui apa itu pilkada serentak, mulai dari pengertian hingga prosesnya. Tentunya ini akan menghambat proses demokrasi negara karena warga tidak paham bagaimana seluk beluk pilkada serentak. Pastinya yang paling penting dari pilkada adalah bagaimana calon yang diusung setiap partai. 

Di tahun ini pilkada 2018 ini cukup menyita banyak perhatian, karena muncul nama-nama baru yang dekat dengan kaum millenial. Tentu ini akan menjadi daya tarik tersendiri untuk generasi muda kita yang sudah kepalang tak percaya dengan kinerja para pejabat golongan “old”. Darah segar dan juga misi serta visi baru menjadi bunga pada pilkada kali ini. Sebagai masyarakat yang akan ikut meramaikan pilkada sudah semestinya kita lebih memahami perihal hal ini, lebih peka dan pada akhirnya mau terlibat untuk menentukan siapa saja yang layak memangku jabatan. 

Agar sampai bisa memutuskan hal tersebut kita perlu lebih memahami persoalan ini. pilkada serentak, berikut adalah beberapa hal yang mungkin bisa menambah pengetahuan soal pilkada serentak 2018: 

Apa itu pilkada serentak? 

Adalah proses pemilihan Kepala Daerah baik tingkat Provinsi, maupun tingkat kabupaten dan kota dalam lingkup wilayah atau kawasan tertentu yang dilakukan secara serentak/ dalam waktu bersamaan. Tujuannya adalah menciptakan pilkada yang lebih efisien sehingga dapat menghemat waktu dan anggaran. Total ada 17 provinsi yang akan menggelar pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur dengan total calon yang sudah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) mencapai 116 orang atau 58 pasang. Pilkada juga berlangsung di 39 Kota dan 115 Kabupaten. 

Calon yang lebih beragam 

Pilkada serentak kali ini sangat menarik perhatian karena bakal calonnya yang sangat beragam, ada yang berusia sangat muda sebaliknya ada pula kaum old yang masih mencoba peruntungannya. Di kategori termuda ada Karolin Margret Natasa yang mencalonkan diri sebagai calon gubernur Kalimantan Barat yang usianya kini baru menginjak 35tahun. Hal ini menjadikannya sebagai cagub termuda pada pilkada 2018. 

Selain Karolin ada nama muda lainnya yakni Emil Dardak yang mencalonkan diri mencajadi calon wakil gubernur di Pilgub Jawa Timur diusianya yang kini masih 33ahun. Mantan Bupati Trenggalek ini memiliki cukup track record yang bagus selama memangku jabatan sebelumnya. Tentunya usia muda mereka menjadi angin segar tersendiri dan menambah optimisime kaum muda bisa bersaing dengan kaum old. 

Maklum, selama ini pilkada di Indonesia memang seringnya dihiasai wajah-wajah lama yang sebelumnya pernah memangku jabatan-jabatan penting. Sehingga seringkali tidak ada terobosan baru diberbagai bidang yang sebenarnya sangat diharapkan oleh muda-mudi, generasi penerus bangsa Indonesia. Kehadiran wajah-wajah segar pada pilkada kali ini diharapkan dapat menjadi kepanjangan tangan dari para visioner muda Indonesia. 

Kebangkitan kaum perempuan 

Agak berbeda dari pilkada sebelumnya yang minim panggung untuk kaum hawa,kali ini para perempuan muda bertalenta Indonesia lebih trengginas. Terbukti dengan tercatatanya 7 nama perempuan yang ikut bertarung dalam pilkada kali ini. Pilkada serentak yang juga berlangsung di 39 Kota dan 115 Kabupaten ini total menyuguhkan pertarungan bagi 373 pasangan untuk pemilihan bupati-wakil bupati da 139 calon pemilihan wali kota-wakil walikota. 

Berdasarkan data dari KPU, dari 569 pasangan calon yang akan maju 521 diantaranya adalah pria yang berebut kursi gubernur, bupati dan wali kota sementara sisinya yakni 48 orang merupakan perempuan. Untuk kursi Wakil Kepala Daerah sebanyak 518 calon diketahui berjenis kelamin laki-lai dan 51 perempuan. Meski presentasi kehadiran perempuan pada pilkada ini masih belum mencapai jumlah besar namun ini sudah menjadi sinyal yang baik mengingat pada pemilihan sebelumnya jarang sekali kita melihat nama-nama perempuan bertengger didaftar perebutan. 

Kehadiran mereka pastinya akan memantik semangat para perempuan lain, yang masih gamang untuk mengikuti dunia politik tanah air. Padahal banyak diantaranya memiliki potensi dan dapat memberikan sumbangsih berarti bagi negara. Setidaknya kehadiran perempuan pada pilkada kali ini bukan hanya berperan sebagai pemanis melainkan juga sosok yang mesti diperhitungkan keberadaannya. 

Tidak ada putaran kedua 

Bagi kamu yang pernah mengalami dan mengikuti pemilihan kepala daerah dari tahun ke tahun pastinya sudah hapal betul kalau pilkada di Indonesia kerap kali dilakukan hingga tiga putaran. Di 2018 hal itu berbeda, karena pada pilkada serentak hanya diberlakukan satu kali putaran saja. Pilkada dengan putaran kedua hanya khusus untuk Provinsi DKI Jakarta saja. Peraturan inipun sudah tertuang pada PKPU Nomo 6 Tahun 2016. 

Setiap pasangan calon yang dinyatakan menang adalah mereka yang mendapat suara terbanyak. Sehingga tidak perlu ada aturan jumlah suara harus melebihi 50%, suara yang paling besar dinyatakan menang. So ini bukan ajang untuk kita coba-coba memilih karena hanya sekali putaran saja. Pahami dulu visi misi bakal setiap calon sebelum mementukan pilihan, jangan sampai menyesal telah menunjuk orang yang tidak berkompeten untuk memangku jabatan besar. 

Calon tunggal yang semakin besar 

Hal penting lain yang mesti kita tahu pada pilkada 2018 adalah semakin meningkatna jumlah calon tunggal yakni mencapai 13 daerah, jumlah ini lebih banyak dibandingkan pada 2015 dan 2017. Kebanyakan dari para pasangan tersebut diusung oleh partai politik bukan perorangan. 13 daerah yang mengusung pasangan tunggal tersebut terdiri dari pemilihan bupati dan wali kota dan diantaranya adalah: 

Kota Prabumulih, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Minahasa Teggara, Kabupaten Puncak, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Mamasa dan Kabupaten Tapin. 

Calon tunggal sendiri merupakan istilah yang merujuk pada hanya terdapatnya satu pasangan calon kepala daerah dalam satu wilayah tertentu. Sebabnya ada banyak, pertama bisa karena ketiadaan alternatif calon kepada daerah di wilayah yang memiliki pasagan calon tunggal. Kedua, besarnya dukungan kepada pasangan calon tunggal yang menyebabkan parpol lain engga mencalonkan orang untuk melawannya. Ketiga, bisa jadi merupakan sebuah usaha dari pihak calon tunggu yang tidak menginginkan adanya saingan dengan cara mengumpulkan semua dukungan. 

Pastinya kenaikan calon tinggal ini akan memengaruhi suasana demokasi diberbagai wilayah di Indonesia. Karena masyarakat seakan-akan dihadapkan pada hanya satu pilihan saja yang kemungkinan visi misinya tidak bisa diamini oleh semua orang. Banyak pihak juga menyayangkan begitu banyak daerah yang mengajukan calon tunggal. Namun pemerintah tak bisa berbuat banyak, kendati sudah berjanji memberikan subsidi untuk bahan kampanye bakal calon kepala daerah nyatanya setiap tahun jumlah calon tunggal ini semakin naik. 

Itulah beberapa hal menarik yang wajib kamu tahu perihal pilkada 2018, ingat sebelum memilih perhatikan dengan bijak setiap visi misi yang diusung setiap bakal calon, tentukan pemimpin bukan berdasar pada janji manis semasa kampanye saja, namun yang benar-benar bisa memberikan kontribusi nyata pada negara.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IBX5A55FE0D2BDB9

Cari Blog Ini

Label

Recent Posts

Label Cloud